MATARAM- Bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)selama satu bulan lebih, telah berdampak terhadap berbagai sektor ekonomi. Diantaranya sektor pariwisata dan ditutupnya pendakian gunung Rinjani di Pulau Lombok.

Masih ditutupnya pendakian gunung Rinjani pasca bencana gempa di Pulau Lombok menyebabkan kurang lebih 1.200 porter dan guide menganggur. Hal ini di sebabkan oleh masih terjadinya longsoran terus menerus di kawasan Taman Nasional ini.

Tokoh Muda Pariwisata Indonesia,Taufan Rahmadi, mengatakan, bahwa gempa bumi di Lombok berdampak juga terhadap sektor pertanian, transportasi dan beberapa hotel maupun homestay dan pelaku wisata di Pulau Lombok.

“Disamping porter dan guide, ada 86 Tour operator , puluhan hotel dan homestay yang juga terkena dampak dari penutupan pendakian ini , belum lagi sektor transportasi dan pertanian,” ungkapnya, mengutip pernyataan Sudiyono, Kepala Balai Taman Nasionap Gunubg Rinjani (TNGR), kepada wartakini.co, via WhatsApp, Jumat (28/09) pagi.

Pria asal Mataram ini menambahkan, sepinya wisatawan dan ditutupnya hotel serta penginapan telah menyebabkan kemacetan suplai hasil pertanian ke hotel dan penginapan.

“Dan yang perlu diingat bahwa penutupan pendakian ke Rinjani diperkirakan akan dilakukan sampai akhir tahun 2019,” tutur Taufan.

Melihat kondisi tersebut, menurut Taufan, ada 8 langkah strategis jangka pendek yang dapat dilakukan sebagai quick win.

Kedelapan langkah tersebut; Peryama, ciptakan produk baru paket wisata dengan memunculkan obyek – obyek wisata baru di seputar kawasan yang berada dalam zona aman.

Kedua, lakukan promosi secara kreatif terkait produk baru paket wisata tersebut; Ketiga, selenggarakan pelatihan bisnis kreatif bagi para pelaku pariwisata setempat.

Keempat, berikan kemudahan akses permodalan untuk pengembangan usaha pada sektor pariwisata; Kelima, revitalisasi potensi Desa Wisata yang berada di lingkar kawasan.

Keenam, optimalisasi kerjasama antara pemerintah , swasta dan masyarakat dalam bentuk kesepakatan membantu memperluas pemasaran hasil pertanian.

Ketujuh, memberikan insentif kepada para pelaku usaha pariwisata di kawasan Rinjani untuk melakukan studi banding tentang ” tourism survival ” di negara yang pernah hancur pariwisatanya dikarenakan bencana alam. Kemudian bisa cepat bangkit dan berjaya kembali.

Kedelapan, bentuk tim ( Rinjani ) Crisis Centre yang bertugas melakukan aksi yang cepat dan nyata di dalam mengatasi segala tantangan terkait aktivitas pariwisata di kawasan Rinjani dan sekitarnya.

“Delapan langkah ini tentunya akan dapat diwujudkan apabila kita semua , baik di pusat hingga di daerah bergerak bersama – sama dalam semangat mengembalikan kembali pariwisata NTB,” ingat Taufan, dengan jelas.

Razak | NTB

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here