SUBANG – Pengelolaan dan pembinaan olahraga di Kabupaten Subang dinilai masih kacau. Sehingga membuat gerah para pemerhati dan pengurus cabang olahraga yang bernaung di KONI Subang.

Salah satunya, Zaenal Abidin, Tokoh pemerhati olahraga di Subang. Dia menilai masyarakat olahraga geliatnya sudah bagus. Namun yang disayangkan warga subang selama ini kelihatannya di lapangan masih kacau.

“Kalau prestasi ada. Tetapi KONI kurang memahami kemauan dan kebutuhan pengurus cabor. Pada saat penyelenggaraan Porda di Bogor kemarin, mereka para atlet sudah tunjukkan prestasi. Namun apa yang didapat oleh atlet? Yang jelas malah perhatian ke cabor kurang,” kata Zaenal, Sabtu (5/01/2019).

Zaenal menambahkan, beberapa cabor sudah teken kontrak dengan Koni Subang. Kenyataanya, para atlet ada yang belum dibayar. Itu membuat kepercayaan dari publik jadi berkurang terhadap Koni Subang.

“Bantuan dari Pemda Rp 4 Miliar, namun uang tersebut belum dibayarkan. Koni masih berhutang banyak ke atlet dalam hal kontrak dan gaji.
Yang saya tahu, nilai kontrak uang pembinaan itu mulai dari Rp 100 juta sampai Rp 150 juta. Khusunya prioritas untuk atlet yang berprestasi. Ada diantaranya, cabor billiard, takwondo, muaythai, tenis meja, tinju, dan lainnya,” katanya.

Menaggapi adanya gejolak di tubuh Koni Subang, Pengurus Koni Jabar Rahyang Mandalajati Evi Silviadi menyatakan bahwa Koni Subang harus segera menyelesaikan persoalan yang muncul di internalnya.

“ini sudah persoalan lembaga Koni Subang. Penyelesaiannya juga harus diserahkan ke Koni Subang sendiri. Kalau ada RAT, dilihat hasil kesepakatan atau amanah RAT nya. Misalnya harus Musdalub, baru kita tahu setelah RAT dan wajib dijalankan, begitu aturan mainnya,” kata Evi.

Dia menegaskan, apapun hasil kesepakatan para pengurus cabor, bantuan yang diberikan pemkab ke Koni Subang harus dipertanggungjawabkan oleh ketua. “Itu karena kaitan dengan uang negara dan hak para atlet,” ucap Evi.

Ahmad Ripai

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here