SUBANG – Kaputrian Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan yang mengurusi hubungan Internasional Bhatari Hyang Janapati Madrim Kusumah Andhini menyatakan terus mempersiapkan ekspor besar besaran komoditas dari Subang terutama rempah rempah dan buah, seperti kopi.

“Sedikit flash back, saya sudah proses perjalanan mempromosikan kopi Indonesia khususnya Jawa Barat, ke luar negeri sejak 2010 lalu. Sejak kopi masih dipandang produk ke tiga apa ke sekian, tidak menjadi yang utama,” kata Madrim, kepada wartawan di Subang, Selasa (09/07/2019).

Kenapa Madrim bergerak, awalnya karena banyak keluhan dari petani. Mereka punya produk tapi, pemasaran susah. Akhirnya dia coba membuka pasar ke luar negeri. Pertama, pihaknya bangun kerjasama dengan Australia, kemudian Belanda, dan dengan Maroko.

“Kebutuhan Maroko total 100 ribu ton per tahun pada tahun 2011. Kita diharap bisa export langsung ke sana tanpa melalui negara ke 3 dan bisa saya wujudkan untuk perdana pada tahun 2013 setelah melalui proses yang alot disupport Pemprov Jabar pada waktu itu,” kata Madrim.

Lalu membuat MoU antara Bupati Subang dengan AWEX Belgia pada 2014. Saat itu, dia juga didaulat jadi brand ambassador, hingga mendatangkan Princess Belgia ke Indonesia.

“Yang dibilang kopi kita sudah enak, sudah bagus, pada kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya benar.
Tanah kita bagus memang, kopi kita juga bagus tapi masalah pengolahan belum tepat. Mesin pengolah kopinya juga belum menghasilkan kopi yang berkualitas. Produk kopi kita belum bisa bersaing dengan Brazil, Kolombia, Kenya dan negara eksportir kopi lain,” paparnya.

Masalah lainnya, kata Madrim, adalah akses infrastruktur. Kalau akses jalan dan sebagainya susah harga kopi jadi mahal. Sebelum Presiden Jokowi menjabat, infrastruktur pedesaan terutama akses jalan belum banyak dibangun.

“Soal bisnis komoditi seperti kopi ini harus dipersiapkan dari hulu ke hilir, dari mulai perkebunan, pengolahan hasil panen, produksi, hingga pemasaran. Pasar di luar negeri sudah dipersiapkan, nah tugas Galuh Pakuan tinggal perbaiki masalah di dalam negeri seperti dipaparkan tadi pakai BUMD PT Subang Sejahtera,” katanya.

Dikatakannya, Indonesia bisa maju kalau bersinergi dan jangan saling sikut.Fungsi dan etika bisnis harus berjalan. Kalau ada pihak yang dilewati nanti tidak berjalan.

“Saya besar harapan dengan Subang dengan kehadiran Galuh Pakuan sebuah lembaga dengan pergerakan out of the box. Indonesia adalah anugerah yang besar, harus kita syukuri. Kita punya pohon kopi, teh, dan komoditi rempah lain. Kita sudah survei, kenapa seperti singkong bukan dari Indonesia. Itu pertanyaan besar kita, kenapa dari Thailand. Maka dari itu, SDM, karakter mental kita harus konsisten menjaga kualitas,” jelas Madrim.

Raja LAK Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi menambahkan terkait pekerjaan besar seperti ekspor komoditi kopi itu sudah disiapkan kerjasama dengan kementerian dan stakeholder terkait.

“Fokus kita di Subang dulu saja, karena proyeksi poros maritim berbasis rempah ini berpusat di Subang,” kata Evi.

Ahmad Ripai

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here