SUBANG – Gelegar 1.000 Kentongan yang siap digelar di Desa Tenjolaya Kecamatan Kasomalang Subang, Senin (11/11/2019) besok sama sekali tak dibantu oleh Setda Subang. Padahal, Bupati Subang H Ruhimat telah meminta untuk didukung, tapi ternyata perintah bupati tak didengar oleh bawahannya.

Salah satu staf Bagian Rumah Tangga Pemkab Subang, Asep terang terangan menolak untuk memasang perlengkapan tenda seperti yang dibutuhkan oleh panitia. Asep beralasan para pekerja pemasang tenda kelelahan setelah berbagai kegiatan.

“Pan kamari tea barudak na teu sanggupeun. Cape ti alun alun teras ka Cimute sareng ka Sagalaherang tilas (Alm) Pa Ade (Mulyawadi) ngantunken ngabongkar. Akang hubungi wae Pa Budi. (Kemarin itu, anak anak (pegawai tenda)nya tidak sanggup. Capek dari Alun alun lanjut ke Cimute dan ke Sagalaherang bekas Alm Pak Ade Mulyawadi meninggal, membongkar (tenda). Akang hubungi saja Pak Budi),” ujar Asep, melalui pesan singkat, Minggu (10/11/2019).

Gelegar 1.000 Kentongan ini digelar atas kerjasama RRI Bandung, LAK Galuh Pakuan dan menghadirkan Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, dan anggota DPR RI TB Hasanuddin.

Patih Agung LAK Abah Renggo mengungkapkan kekecewaannya terhadap suport Pemda. Dia menjelaskan alasan kuat mengapa kegiatan 1.000 Kentongan ini penting diselenggarakan. Kentongan berfungsi sebagai upaya early warning system atau peringatan dini kebencanaan.

“Kita memang tidak mengharapkan adanya bencana alam. Namun kita semua tahu, sebagian wilayah Kab Subang ini termasuk rawan bencana. Maka dari itu kita semua, pemerintah, swasta, masyarakat bergotong royong berbagi peran, juga berbagi beban dalam mencegah dan tahu cara menaggulangi saat terjadi bencana. Termasuk menggelar Gelegar 1.000 Kentongan ini,” kata Abah Renggo.

Panitia bahkan sudah berupaya mengalah dengan mau menanggung biaya pemasangan tenda. Meski hal itu tugas pemda.
“Padahal kemarin dia (Asep) minta uang dan kita setuju. Ini swadaya loh. Bahkan untuk makan Bupati, dan tamu dari pusat dan daerah pun kita swadaya. Kita hanya khawatir ini rentan bencana di musim hujan ini. Itu saja. Ini kepentingan kita bersama,” kata Abah.

Gelegar 1.000 Kentongan dirangkai dengan simulasi tanggap darurat bencana oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta masyarakat. Kentongan menjadi alat tradisional yang telah sangat berguna dimana perangkat modern seperti ponsel, listrik dan semacamnya tak lagi berfungsi saat bencana.

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here