PT PG Rajawali II Menjalin Kemitraan Budidaya Tebu dengan Masyarakat

0
pt pg rajawali II
PT PG Rajawali II melaunching Program Kemitraan Budidaya Tebu

CIREBON – PT PG Rajawali II melaunching Program Kemitraan Budidaya Tebu yang melibatkan masyarakat desa penyangga di lingkungan areal HGU PG Jatitujuh.

Menurut Sekretaris Korporasi PT PG Rajawali II Erwin Yuswanto, program kemitraan budidaya tebu di lahan HGU Jatitujuh ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Program kemitraan ini sebagai wujud kepedulian perusahaan dalam rangka membangun harmoni dengan masyarakat desa penyangga,” dalam rilisnya, Rabu (07/10/2020).

Menurut dia, program kemitraan ini membawa dampak positif yang sangat besar, baik bagi perusahaan, terutama juga bagi masyarakat desa penyangga.

Hal ini, katanya meliputi pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan ekonomi, keamanan lingkungan kebun dari kebakaran ataupun pengrusakan, dan kepastian suplai bahan baku tebu ke pabrik.

Selain itu, lanjut dia melahirkan mitra-mitra petani yang mampu mengelola kebun tebu, terjalinnya interaksi antara perusahaan dan masyarakat serta lahirnya entitas ekonomi desa berupa BUMDes.

Program kemitraan budidaya tebu, jelas dia, saat ini sudah berjalan 2 x masa tanam yaitu masa tanam 2018/2019 dan 2019/2020.

“Dengan melibatkan masyarakat dari 22 Desa penyangga terbagi menjadi 11 Desa di wilayah Kabupaten Majalengka dan 11 Desa di wilayah Kabupaten Indramayu,” ujarnya.

Sejak dilaunching tahun 2018, lanjut dia, jumlah petani yang sudah mengikuti program kemitraan sebanyak 945 Kepala Keluarga, dengan lahan seluas 1.806 Ha.

“Secara massif program kemitraan ini terus disosialisasikan kepada masyarakat sekitar. Animo masyarakat terhadap kemitraan cukup tinggi,” ujarnya.

Pada masa tanam 2019/2020, tambah dia, jumlah peserta kemitraan bertambah menjadi 1.895 Kepala Keluarga, dengan tambahan luas lahan menjadi 3.302 Ha.

Pendanaan Program kemitraan ini, kata dia didukung dengan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BJB, Bank BNI46, dan Bank BTN, dimana petani mitra mengajukan KUR dan PT PG Rajawali II sebagai avalist.

“Hasil panen tebu petani akan dibeli oleh perusahaan sesuai hasil produksi kebun masing-masing petani,” ujarnya.

Hasil penjualan tebu digunakan untuk melunasi kewajiban KUR, dan kelebihan atas hasil penjualan tebu terhadap biaya budidaya tebu menjadi keuntungan bagi petani atau lebih dikenal dengan Sisa Hasil Usaha (SHU).

Keberhasilan program kemitraan pada masa tanam 2018/2019 dan 2019/2020, tambah dia telah melahirkan 8 unit BUMDes dengan bidang usaha pengelolaan budidaya perkebunan tebu yang bekerja sama dengan Unit PG Jatitujuh-PT PG Rajawali II, anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero).

BUMDes tersebut, yaitu BUMDes Pandawa, Desa Pilangsari;
BUMDes Kertaraharja, Desa Sukakerta; BUMDes Sumber Sejahtera Desa Sumber Kulon dan
BUMDes Mitra Sejahtera Desa Sumber Wetan.

Selain itu, lanjutnya BUMDes Rus Cinta, Desa Gadel; BUMDes Bintang Kerti, Desa Kerticala;
BUMDes Binangkit, Desa Pasiripis; dan BUMDes Citra Lestari, Desa Sukamulya.

Dengan semakin menggeliatnya ekonomi desa, kata dia perusahaan memproyeksikan untuk Musim Tanam 2020/2021, Program Kemitraan ini akan menyasar 2.259 Kepala Keluarga dengan luas lahan yang dikelola seluas 4.300 Ha.

“Target kemitraan dalam 5 tahun ke depan 8.600 Ha dengan jumlah petani mitra sebanyak 4.300 orang,” ujarnya.

Program Kemitraan Budidaya Tebu, menurutnya menjadi kunci atas eksistensi Pabrik Gula dalam mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan lembaga ekonomi desa yaitu BUMDes. ***

ok siap, mantap!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.