Subang Harus Siaga Hadapi Cuaca Ekstrim Desember 2020-Februari 2021

0
Peta Cuaca, @BMKG
Peta Prakiraan Cuaca Nasional 2020-2021, @BMKG

Penulis : Arief Darmawan (Dosen Universitas Subang, Pengamat Pembangunan Ekonomi-Wilayah dan Infrastruktur)

porosjabar Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan perkiraan curah hujan di seluruh Indonesia untuk periode Desember 2020 sampai dengan Februari 2021. Berdasarkan perkiraan tersebut, wilayah Jawa Barat Utara (Pantura) diperkirakan akan mengalami intensitas hujan di atas normal dengan curah hujan tinggi antara 300-500 mm.

BMKG juga telah memberikan peringatan dini akan terjadinya cuaca ekstrim yang diperkirakan akan terjadi selama tanggal 6-10 Desember 2020, di wilayah Pantura Jawa Barat termasuk Kabupaten Subang, berupa hujan sedang sampai dengan hujan lebat yang dapat disertai kilat/ petir dan angin kencang. Dikhawatirkan cuasa ekstrim tersebut akan terus berlanjut sepanjang bulan Desember 2020 dan puncaknya pada bulan Januari 2021.

Peringatan BMKG tersebut, perlu menjadi perhatian seluruh warga Kabupaten Subang dan disikapi secara serius oleh seluruh komponen pemerintahan Kabupaten Subang. Dari tingkat Desa sampai dengan Pemkab, diharapkan sudah mulai meningkatkan kesiapsiagaan dan antisipasi kejadian bencana yang diakibatkan cuaca ekstrim, seperti bencana longsor, banjir bandang, dan banjir. Sebetulnya, sejak Oktober-November 2020, telah terjadi kejadian bencana longsor di beberapa wilayah Kab. Subang bagian Selatan, namun mengacu pada peringatan cuaca ekstrim dari BMKG selama periode Desember 2020 – Januari 2021, dikhawatirkan sebaran dan dampak kejadian bencana hidrologisnya bisa lebih intens dan berdampak luas.

Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan Oktober-November. Karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah yang tidak tertutup hutan dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga merekahnya tanah permukaan. Ketika hujan turun, air akan menyusup ke dalam rekahan tersebut sehingga tanah dengan cepat mengembang kembali.

Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi meskipun sebentar, biasanya sudah bisa membuat kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Tanah jenuh air tersebut pada lerengan akan bergerak turun menjadi longsor. Bila ada hutan di permukaannya, gerakan tanah berupa longsor tertahan karena akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah. Namun berkurangnya hutan, menyebabkan terjadi longsor yang seringkali menutupi (overtopping) dan membendung aliran air (palung sungai/ anak sungai)), sehingga pada saat terjadi curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, membuat limpasan air tidak terbendung lagi dan menyebabkan banjir bandang yang membawa serta lumpur dan material lainnya.

Dalam hal kesiapsiagaan dan antisipasi kejadian bencana hidrologis, seluruh pihak harus berkaca pada kejadian bencana banjir pada akhir Februari 2020, yang merendam 10 kecamatan di wilayah Subang Utara, menyebabkan 6.461 rumah terendam dan 5.938 warga mengungsi. Masyarakat dan pemerintah kurang mengantisipasi kejadian tersebut, yang sebelumnya belum pernah terjadi begitu cepat dan meliputi banyak wilayah. Sedangkan banjir bandang beresiko terjadi di wilayah yang memiliki kelerangan >40% seperti Kecamatan Cisalak. Ciater, Kasomalang, dan Tanjungsiang. Perlu menjadi pelajaran berharga bencana banjir bandang yang pernah terjadi di Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak pada medio Mei 2020 dan di Kampung Cikondang, Desa Nagrak, Kecamatan Ciater pada Mei 2010 lalu.

Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) terkait mitigasi bencana di Kabupaten Subang (Pemkab, BPBD, TNI-POLRI, dan relawan masyarakat), perlu segera meningkatkan kesiapsiagaan dan memberikan sosialisasi secara maksimal kepada masyarakat di wilayah yang rentan terjadi bencana hidrologi. Sebagai upaya positif yang perlu diapresiasi adalah inisiatif rapat koordinasi tentang status darurat bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, dan pohon tumbang) yang diselenggarakan Kapolres Subang di kantor PJT II Subang pada tanggal 13 November 2020 lalu. Hasil dari koordinasi tersebut perlu lebih disosialisasikan kepada masyarakat sampai dengan level desa, agar segenap masyarakat menjadi aware dan bisa melakukan tanggap darurat bencana secara maksimal dan terkoordinasi dengan baik. Sehingga bisa diminimalkan kerugian akibat bencana baik jiwa manusia, harta-benda, dan infrastruktur.

ok siap, mantap!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.